Search

Kajian Rancangan Gedung Rektorat UI ditinjau dari pendekatan Regionalisme

Aspek lokalitas dalam arsitektur Indonesia memiliki berbagai wujud yang variatif akibat keberagaman dalam pendekatan perancangannya. Sebagai bangunan kontemporer, arsitektur Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia (GPAUI) memiliki tampilan fisik yang unik dengan langgam, penggunaan material dan konstruksi yang mengisyaratkan unsur lokal sekaligus juga penerapannya terhadap desain. Untuk  menghasilkan rancangan yang sedemikian rupa, maka tentunya ada pendekatan tertentu yang diterapkan dalam proses perancangannya.

Tinjauan dalam perancangan bangunan Gedung Pusat Administrasi UI memiliki beberapa pola tertentu. Pola-pola tersebut dalam penerapannya sesuai dengan pendekatan Regionalisme. Pendekatan Regionalisme memiliki penekanan pada pengungkapan desain yang merujuk ke spesifikasi tempat asal dan unsur budaya lokal. Merujuk ke spesifikasi tempat asal, Regionalisme mengalami penyempitan cakupan menjadi Critical Regionalism, kemudian dipersempit lagi menjadi Critical Tropicalism dimana segala pola-pola dan karasteristik desainnya disesuaikan dengan penyikapan terhadap iklim dan budaya daerah tropis.

Untuk meneliti penerapan pendekatan Regionalisme dalam arsitektur Gedung Pusat Administrasi UI, maka konsep perancangan dan fisik bangunannya harus ditinjau terlebih dahulu. Terletak di komplek Universitas Indonesia, Depok yang merupakan suatu kawasan pendidikan, tapak bangunan memiliki kekayaan tersendiri baik pada kondisi sekitar maupun pada kondisi lahan. Kondisi fisik bangunan memiliki keistimewaan tersendiri karena konsep arsitekturnya serta wujud bangunannya secara menyeluruh.

Latar Belakang

Pembangunan besar-besaran sepanjang tahun ‘70 hingga ‘80an mengubah bentukan fisik dari bangunan bertingkat rendah menjadi bangunan tinggi. Sayangnya sosok bangunannya sebagian besar masih terpengaruh langgam arsitektur International Style.

Ancaman terhadap eksistensi kelokalan, hilangnya identitas, karakter serta makna yang disebabkan oleh keseragaman arsitektur Modern yang dianggap tidak kontekstual secara fisik maupun sosial tersebut telah membawa dunia kepada suatu kesadaran akan pentingnya pluralitas, kesadaran untuk berpegang pada identitas lokal ini kemudian menjadi latar belakang dalam menciptakan arsitektur yang kontekstual dengan lingkungannya.

Di abad ke-20, terjadi beberapa usaha di berbagai negara untuk mencari pendekatan regionalisme bagi bangsa masing-masing. Begitu juga di Indonesia. Salah satu kasus percobaan untuk memunculkan unsur regional yaitu pada karya arsitektur Gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia yang terjadi di pertengahan 1980. Pada kasus ini, para arsitek yang terlibat mencoba untuk bertindak lebih kritis daripada sekedar mengambil bentuk elemen arsitektur tradisional. Mereka mencoba untuk mencari esensi arsitektur-arsitektur Indonesia melalui pendekatan tipologis. Melalui pendekatan tipologis inilah sebuah esensi “ke-Indonesiaan” disimpulkan dan ditampilkan pada gedung terebut.

Arsitektur Gedung Pusat Administrasi UI, berhasil tampil sebagai wakil kampus UI dengan aura simbolik yang kuat dan jelas. Adaptasi bangunan-bangunan tradisional ke dalam bangunan bertingkat banyak, menunjukan arah baru dari perkembangan Arsitektur regional di Indonesia. Keberanian sang arsitek untuk mendobrak konvensi atas pengertian “fungsi” bangunan institusi pendidikan tinggi pada umumnya, berhasil menjadikan gedung ini sebagai representasi baru yang dapat diterima dengan baik selayaknya bangunan ini memiliki nilai estetik regional setempat yang merepresentasikan jamannya.

Pendekatan desain bangunan Gedung Pusat Administrasi UI akan dikaji lebih jauh melalui pendekatan regionalisme.

Pengamatan didasari oleh ketertarikan akan konsep awal objek studi dan faktor-faktor yang mewujudkannya dan dilakukan untuk mengerti lebih jauh tentang unsur dan fitur rancangan dan faktor-faktor yang membentuk rumusan desain baik itu fisik maupun non-fisik.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Ekspresi Regional

Merujuk dari buku Alexander Tzonis yang berjudul Tropical Architecture; Critical Reginalism In the Age of Globalization, yang dimaksud dengan ekspresi regional adalah bentuk ekspresi yang dihasilkan oleh tanggapan terhadap iklim tropis yang telah disesuaikan dengan ciri-ciri lokal tempat suatu arsitektur dibangun. Bersama dengan koleganya, William Lim, Tan Hock Beng mengusulkan empat strategi untuk menerjemahkan kembali sekaligus membangkitkan tradisi.

Konsep perancangan bangunan yaitu ingin menciptakan sebuah bangunan tinggi tropis dan berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, Gunawan Tjahjono dan tim desainnya melakukan reinterpretasi atau menerjemahkan ulang arsitektur vernakular Indonesia, dan berusaha mencari sintesa dari arsitektur nusantara. Ekspresi yang dirancang merupakan abstraksi rasional dari  bangunan tradisional indonesia untuk menghindari duplikasi yang naif, namun tetap dapat menjawab tantangan alam dan iklim tropis. Penerapan ide-ide vernakular dan tradisional tidak hanya terbatas pada ekpresi dan bentukan semata, namun juga disisipkan makna yang melekat pada bangunan yang dirancang di dalam Komplek Universitas Indonesia tersebut, khususnya GPAUI. Secara pemaknaan, GPAUI melambangkan kebijaksanaan yang ditempatkan pada tempat tertinggi, dan kebijakan tersebut diambil secara musyawarah oleh para Guru Besar UI. Kegiatan bermusyawarah ini merupakan sikap yang diturunkan oleh lehurur kita dan menjadi budaya bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila sebagai Ideologi Negara dimana disebutkan dalam sila ke 4.

Pada fitur Ekspresi regional, GPAUI berusaha membangkitkan unsur-unsur tradisional dengan memasukan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Indonesia kedalam konsep bangunan. Hal inilah yang dimaksud dengan memperkenalkan kembali ciri-ciri lokal. Setelah dikaji pada penjelasan diatas, keriteria yang lebih dominan yaitu pada paradigma The “Tradition-Based”.

Tabel 1.1 Keriteria Ekspresi Regional pada GPAUI

  Gedung Pusat Administrasi UI The “Line, Edge, and Shade” Paradigm The “Traditional-Based” Paradigm The “New Screen and Louvre Kitsch” Paradigm
Ekspresi Regional Bentuk Neo-Vernakular
Memasukkan Unsur Sosial dan Budaya, Serta Makna Simbolis

Performa

Sebagai bangunan tropis, penyikapan terhadap topografi, iklim, dan pencahayaan matahari menjadi tugas utama sang perancang. Kenneth Frampton pun menjelaskannya dalam salah satu fitur Critical Regionalism. Bagaimana sebuah bangunan dapat beradaptasi terhadap lingkungannya. Aspek-aspek ini menstimulasi bentuk bangunan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan secara baik. Sehingga tidak memunculkan ornamen-ornamen yang tidak memberikan kontribusi terhadap bangunan itu sendiri dengan lingkungannya.

Suhu udara yang cukup panas dari kota Depok yang merupakan bagian dari kawasan beriklim tropis, terletak di bagian barat Indonesia dengan suhu rata-rata 30oC. Suhu rata-rata tahunan di kota Depok berkisar antara 22,3o-33oC[1]. seperti yang telah disebutkan sebelumnya, konsep perancangan GPAUI memperhatikan penyikapan iklim tropis dan menciptakan sebuah bangunan tropis yang sehat baik bagi penggunanya maupun lingkungannya.

Pada fitur Performa, GPAUI terlihat memiliki perpaduan keriteria yang mememiliki kesamaan, antara lain: penyikapan iklim tropis, menggunakan teritis yang lebar, berada pada konteks Sub-urban, skala bangunan tinggi, serta menggunakan teknologi yaitu alat pengondisian udara. Dengan demikian, dapat disimpulkan pada fitur ini, GPAUI termasuk kedalam paradigma gabungan

[1] Dikutip 25 Maret 2013, diunduh dari : URL : http://cuaca.co.id/

Tabel 2.1 Keriteria Performa pada GPAUI

  Gedung Pusat Administrasi UI The “Line, Edge, and Shade” Paradigm The “Traditional-Based” Paradigm The “New Screen and Louvre Kitsch” Paradigm
Performa Menyikapi Iklim Tropis: ventilasi alami, pencahayaan alami, menangkal radiasi matahari dan hujan, orientasi bangunan
  Menggunakan teritis yang lebar
  Skala bangunan mencapai bangunan tinggi
  Konteks Sub-Urban

Material

Salah satu fitur pendekatan paham Critical Regionalism yaitu mengedepankan kejujuran tektonik. Sebuah bangunan harus memiliki kejujuran pada konstruksi dan pemilihan materialnya yang berakibat pada ekspresi bentuknya.

Pertimbangan penggunaan material berkaitan dengan iklim yang dihadapi oleh bangunan ini. Iklim tropis dengan curah hujan tingi dan panas matahari sepanjang tahun melahirkan pilihan material yang harus kuat serta dengan perawatan yang mudah dan murah. Berikut tabel yang menampilkan sebagian dari penggunaan material pada bangunan Pusat Administrasi UI.

Pada fitur Material, dapat kita lihat melalui pembahasan diatas, GPAUI lebih berpihak pada material modern, hal ini sesuai dengan keriteria The “Line, Edge, and Shade”  serta The “New screen and Lovre kitsch”.

Tabel 3.1 Keriteria Material pada GPAUI

  Gedung Pusat Administrasi UI The “Line, Edge, and Shade” Paradigm The “Traditional-Based” Paradigm The “New Screen and Louvre Kitsch” Paradigm
Material Menggunakan material modern

Temuan di Lapangan

Berdasarkan wawancara langsung dengan Kepala Direktorat Umum dan Fasilitas UI, DR. Ir. Donanta Dhaneswara, M.Si menerangkan tentang perawatan yang dilakukan terhadap GPAUI. Beliau mengatakan aspek perawatan Gedung tersebut dapat dikatakan sulit dan membutuhkan biaya yang cukup mahal terutama pada bagian atap bangunan. Bahan penutup atap yang menggunakan genteng tanah liat ini sering mengalami kerusakan akibat terhempas oleh angin dikarenakan ketinggian bangunan mencapai 85 meter. Akibat bentuk bangunan yang tertutup oleh atap, maka perbaikan pun tidak dapat dibantu dengan alat gondola sehingga pekerja yang memperbaiki terpaksa melakukan proses perbaikan secara manual. Hal ini pun menjadi sulit dikarenakan tidak mudah mencari pekerja yang bersedia melakukannya disebabkan faktor bahaya yang cukup tinggi. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mahalnya perawatan bagian atap, dan beliau mengistilahkan hal ini

“pecah genteng satu, biaya nya 10 kali lipat harga genteng baru”.

Selain permasalahan kerusakan genteng tersebut, kekurangan dari genteng tanah liat ini pun bentuk genteng yang bergelombang memiliki celah yang dijadikan sarang oleh burung walet. Hal ini menyebabkan bau yang tidak sedap kedalam ruangan, terutama pada bagian attic. Karena bau yang susah hilang ini menyebabkan proses pembersihan harus dilakukan jauh hari sebelum ruangan digunakan. Bentuk penyelesaian yang pernah dilakukan ialah dengan menyumbat celah-celah diseluruh genteng dengan busa agar burung walet tidak bersarang, namun hal ini bersifat sementara. Hingga saat ini, sarang walet masih menjadi permasalahan yang belum dapat diselesaikan.

Dalam perencanaannya, GPAUI memang menggunakan alat pengkondisian udara berupa AC sentral. Namun seiring waktu AC tersebut rusak, namun keputusan pemegang jabatan Rektor saat itu lebih memilih membeli AC split dibanding memperbaiki AC sentral tersebut dengan alasan biaya yang mahal. Namun akibat dari penggunaan AC split ini membuat fasad bangunan dipenuhi oleh outdoor unit dari AC tersebut. Hal ini pun mendapatkan protes dari Gunawan Tjahjono selaku arsitek yang memandang hal ini telah merusak tampilan fasad bangunan GPAUI. Hasil dari keputusan ini juga mengakibatkan ruang AHU yang memang sudah menjadi bagian dari rancangan menjadi gudang mati yang tidak dipergunakan, bahkan beberapa unit AHU tersebut telah di bongkar dan dipindahkan, sehingga ruangan beralih fungsi menjadi gudang.

Konsep kejujuran material yang terlihat dari ekspresi beton ekspose tersebut saat ini tidak lagi menunjukan ekspresinya. Hal ini disebabkan ketidakpahaman salah satu pemegang jabatan rektor yang melihat bangunan seakan tidak selesai dan memutuskan untuk mengecat seluruh bangunan. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan Gunawan Tjahjono selaku arsitek. Namun ketika dalam proses pengecatan, Gunawan Tjahjono datang dan melihat hal tersebut dan langsung menegur Rektor tersebut. Kekecewaan ini pun disampaikan beliau dalam buku Tegang Bentang : Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia (2012).

“Sebagai pemakai bangunan umum ini tentu sebaiknya tahu diri, bahwa mereka hanya penghuni sementara, bukanlah hak mereka untuk merombak secara dahsyat sosok itu, kecuali jika ia tak dapat lagi berperan dan menjalankan tugasnya sesuai amanat yang diembankan padanya.”

Bagian yang masih memperlihatkan ekspresi beton ekspos ini hanya pada bagian void dan beberapa kolom yang menyangga bagian tengah bangunan, selebihnya dalam ruang kerja dan eksterior bangunan telah dilapisi oleh cat berwarna putih.

Kesimpulan

 Setelah melakukan analisa dan dikaji dengan teori yang ada, dapat disimpulkan bahwa objek penelitian, Gedung Pusat Administrasi UI memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip paham Critical Regionalism dan klasifikasi teori Critical Tropicalism jika dinilai dari segi Ekspresi Regional, Performa, serta Material dan Makna Bangunan.

Merujuk kepada Ekspresi Regional, bentuk arsitektural yang dibahas mengungkapkan bahwa bentuk bangunan bukan sekedar suatu keinginan perancang sehinga ekspresi yang diperlihatkan merupakan suatu susunan yang membentuk suatu gambaran besar terhadap konsep dan begitu pula sebaliknya.

Gunawan Tjahjono sebagai arsitek berusaha mensintesa nilai-nilai arsitektur vernakular nusantara pada rancangan GPAUI. Perkawinan budaya tradisional dengan teknologi moderen pada zamannya menghasilkan bentuk arsitektur baru yang mampu berbahasa Indonesia secara baik. Hal tersebut menjawab pertanyaan penelitian pertama, yaitu:

  • Apa yang dimaksud dengan konsep regionalisme dalam studi ini?

Regionalisme merupakan peleburan/ penyatuan antara yang lama dan yang baru. Dengan demikian maka yang menjadi ciri utama regionalisme adalah menyatunya Arsitektur Tradisional dan Arsitektur Modern.

Pada poin performa, GPAUI terbentuk dari tujuan rancangan yaitu menciptakan sebuah bangunan yang merespon  iklim tropis. Kemudian dari materialnya, GPAUI menggunakan material modern yang mudah ditemukan, dan ekspresinya jujur sesuai karakter material tersebut. Hasil tersebut menjawab pertanyaan penelitian berikutnya, yaitu:

  • Bagaimana kondisi bangunan GPAUI saat ini terhadap konsep perancangan awal?

Terbukti hingga saat ini bangunan GPAUI tanggap terhadap iklim tropis, menggunakan teritis yang lebar berfungsi melindungi dari sinar matahari dan hujan, kemudian pencahayaan alami yang mampu menerangi ruangan kantor serta daya tahan material yang baik.

      Pada hasil analisa menunjukkan bahwa penerapan paradigma Tropical Design terdapat pada pendekatan Regionalisme yang menganut nilai arsitektur lokal sekaligus menganut bahasa bentuk dari arsitektur tropis yang dipadukan dengan nilai-nilai arsitektur tradisional setempat dan teknologi konstruksi modern. Hal ini menjawab pertanyaan penelitian terakhir, yaitu:

  • Bagaimana relasi konsep regionalisme terhadap bangunan GPAUI?

Melalui penjelasan pada Bab sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa konsep regionalisme terdapat pada bangunan GPAUI. Melalui 3 fitur dasar, yaitu Ekspresi regional, performa, serta material, terlihat bangunan tersebut memiliki keriteria-keriteria yang terdapat dalam Tropical design dan termasuk kedalam Paradigma gabungan. Untuk lebih jelasnya, keriteria tersebut dapat dijabarkan melalui tabel berikut:

Tabel 4.1 Keriteria Bangunan dengan Paradigma Gabungan

  Gedung Pusat Administrasi UI The “Line, Edge, and Shade” Paradigm The “Traditional-Based” Paradigm The “New Screen and Louvre Kitsch” Paradigm
Ekspresi Regional Bentuk Neo-Vernakular
Memasukkan Unsur Sosial dan Budaya, Serta Makna Simbolis
Performa Menyikapi Iklim Tropis: ventilasi alami, pencahayaan alami, menangkal radiasi matahari dan hujan, orientasi bangunan
Menggunakan teritis yang lebar
Skala bangunan mencapai bangunan tinggi
Konteks Sub-Urban
Material Menggunakan material modern

Saran

Hal-hal yang terdapat didalam teori seringkali tidak dapat diaplikasikan secara ideal didalam praktek. Hal ini disebabkan karena dalam suatu proses perancangan bangunan tinggi, suatu pengambilan keputusan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Berikut ini adalah saran yang dapat diberikan pada penelitian ini :

  • Perlunya melihat fenomena dan kebutuhan akan keberlanjutan dalam konteks lokal, bukan hanya dalam konteks global.
  • Orientasi bangunan yang menyikapi arah lintasan matahari, sehingga karakter bangunan tinggi dapat lebih merespon radiasi matahari.
  • Penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan lokal harus lebih banyak lagi diaplikasikan selain ilmu dan teknologi yang diadaptasi dari luar. Hal ini juga penting untuk menjaga keberlanjutan akan ilmu dan teknologi setempat yang sudah seharusnya lebih diperhatikan dan dikembangkan termasuk didalamnya penggunaan material lokal.
  • Pemilihan jenis material dan konstruksi bangunan juga sebaiknya mempertimbangkan aspek Maintenance sehingga biaya operasional bangunan dapat menjadi lebih hemat.

Dalam merencanakan sebuah bangunan tinggi yang merespon terhadap iklim tropis, meminimalisasi pemanasan oleh radiasi matahari merupakan hal ideal, namun untuk menangani masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan cara konvensional seperti pemanfaatan ventilasi silang dengan segala keterbatasannya agar dapat digunakan sebagai ventilasi dalam bangunan, penelitian lebih lanjut dapat diarahkan untuk mengetahui bagaimana teknologi dapat diimplementasikan pada bangunan tinggi dalam kaitannya terhadap respon iklim yang tentunya akan menciptakan suatu bentuk arsitektur bangunan tinggi tropis baru.

Daftar Pustaka

Frampton, Kenneth. 1982. Modern Architecture: A Critical History. London:Thames and Hudson Ltd.

Fry, Maxwell. 1964. Tropical Architecture In The Dry And Humid Zones. New York: Reinhold Pub. Corp

Lefaivre, Liane. 2003. Critical Regionalism: Architecture and Identity in a Globalised World. London: Prestel.

Sugono, Dendy et al. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai   Pustaka.

Tzonis, Alexander. 1981. The Grid and The Pathway. Athens: 51.

Tzonis, Alexander. 2001. Tropical Architecture : Critical Regionalism in The Age of             Globalization. London : Wiley Academy.

Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia. (2012). Tegang Bentang: Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mimar 42. (1992). The University of Indonesia. London: Concept Media Ltd.

Bagikan Artikel
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp